admin

This author admin has created 22 entries.

Ke manakah Indonesia harus Berkiblat dalam Mengembangkan Energi Terbarukan?

Kebijakan pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia telah dimulai sejak lebih dari 1 dekade yang lalu. Berbagai kebijakan telah diluncurkan untuk memperbesar penetrasi energi terbarukan dalam menyuplai energi listrik nasional. Salah satu di antaranya adalah dengan melibatkan peran kampus di dalamnya. Sejak pemerintah menggalakkan pengembangan pemanfaatan energi terbarukan, hampir setiap kampus mengarahkan penelitiannya ke arah hal tersebut. Akan tetapi pada kenyataannya, implementasi pemanfaatan energi terbarukan di lapangan belum optimal.   Paper atau jurnal penelitian sebagai produk akademis dapat dijadikan salah satu indokator

Teknologi untuk Komunitas

Konsep pembangunan berkelanjutan yang mengisyaratkan agar apa yang kita lakukan saat ini tidak membebani kehidupan generasi masa depan semakin didengungkan. Hal tersebut dilandasi oleh kesadaran akan kondisi dunia saat ini, yaitu kelangkaan bahan bakar minyak dan polusi udara. Saat ini, energi listrik sebagai bentuk energi populer di masyarakat masih didominasi dari bahan bakar fosil. Budaya yang diwariskan dari penggunaan bahan bakar fosil semakin memperparah kondisi dunia dengan menimbulkan polusi udara dan kebakaran hutan sebagai efek samping pemanasan global. Selain itu, terjadi

Siklus Rankine Organik pada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada ring of fire (Gambar 1)  memiliki potensi panas bumi sebesar 28,91 GW dari 312 area panas bumi. Kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) hingga tahun 2013 sebesar 1,3435 GW [1]. Sistem panas bumi di Indonesia umumnya merupakan sistem hidrotermal yang mempunyai temperatur tinggi (> 225oC) dan hanya beberapa yang memiliki temperatur sedang (150o – 225o C)[2]. Lapangan panas bumi hidrotermal di Indonesia yang tersebar ke dalam 56 WKP (wilayah kerja panas bumi)

Peningkatan efisiensi sel surya yang telah dihasilkan oleh para Engineer di UNSW Australia

Para insinyur dari Australia telah mencapai batas teoritikal untuk konversi sumber daya matahari menjadi listrik yang dihasilkan oleh sel surya dengan alat yang mampu menciptakan catatan rekor terbaru untuk efisiensi terbaik dari sel surya.   Rekor yang telah diraih oleh Dr Mark Keevers dan Professor Martin Green, yang merupakan  direktur dan anggota peneliti senior dari Pusat Penelitian Lanjut Sel Surya UNSW Australia, menggunakan 28 cm2 four-junction mini-module yang tertanam langsung dalam sebuah prisma, yang dapat memberikan energi maksimum yang berasal dari

Menghemat Energi Mulai dari Rumah

Masalah energi di Indonesia memang tidak pernah berhenti diperbincangkan dari dulu sampai sekarang, oleh siapa saja dan di mana saja, mulai dari tukang becak, sopir angkot, sampai pejabat tinggi negara seperti anggota DPR dan partai politik. Dibicarakandi berbagai tempat, mulai di angkringan, warteg, kafe, hingga diseminarkan di hotel berbintang lima. Isu yang dibicarakan juga beragam, mulai dari isu ketersediaan energi (energy supplay), impor BBM, teknologi konversi, subsidi, konservasi dan penghematan energi, energi terbarukan, hingga kepentingan politik yang menyertai isu seputar energi.

Kelas Menengah dan Konsumsi Energi

Kelas menengah Indonesia dengan jumlah hampir 60% dari total penduduk sekitar 250 juta jiwa telah menjadi sebuah definisi dari sekelompok kelas yang muncul belakangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Apakah terdapat korelasi langsung antara munculnya kelas menengah dengan tingkat konsumsi energi? Sebelum lebih jauh, mari kita lihat beberapa definisi kelas menengah yang ada. Menurut Asia Develompment Bank (ADB), kelas menengah Indonesia adalah kelompok dengan pengeluaran antara USD 2-20 per hari. ADB masih membagi kelas menengah menjadi tiga tingkatan yaitu lower (pengeluaran

Telaah atas Konsep Green Building di Indonesia

Studi tentang Bangunan Hijau (Green Building) di Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari perkembangan isu bangunan hijau di dunia. Sistem penilaian bangunan hijau yang terkenal di dunia antara lain LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) dari Amerika Serikat, CASBEE (Comprehensive Assessment System for Built Environment Efficiency) dari Jepang, BREEAM (Building Research Establishment Environmental Assessment Method) dari Inggris, Green Star dari Australia, dan lain sebagainya. Di Indonesia, sistem penilaian bangunan hijau pertama kali diinisiasi oleh GBCI (Green Building Council Indonesia) dengan sistem

Pemanfaatan Limbah Daun Jati Kering Menjadi Briket di Desa Purwodadi, Tepus, Gunung Kidul

Pohon jati merupakan komoditas terbesar di Desa Purwodadi dengan jumlah pohon 1.219.059 batang. Karakteristik pohon jati yang menggugurkan daunnya setiap musim kemarau memberikan sebuah masalah baru bagi masyarakat sekitar. Daun-daun kering yang gugur ini menjadi sampah yang belum termanfaatkan secara baik dan mengganggu pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan daun jati kering di Desa Purwodadi dalam bentuk pembuatan briket dengan bahan daun jati kering. Sampel daun jati kering langsung diambil dari Desa Purwodadi. Dari daun jati kering tersebut dibuat briket

Enerbi Meraih Penghargaan dari Kementrian ESDM

Salah satu yayasan yang fokus di bidang energi terbarukan, Yayasan Energi Bersih Indonesia (EnerBI), meraih penghargaan Energi ke-5 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Enerbi meraih penghargaan tersebut karena dianggap berjasa dan berdampak besar dalam kegiatan usaha pengembangan, penyediaan dan pemanfaatan energi dengan prinsip diversifikasi dan/atau konservasi energi. Dalam sidang pleno Dewan juri, selain Enerbi, ditetapkan 12 penerima penghargaan lainnya. Penghargaan diserahkan langsung oleh Menteri ESDM, Sudirman Said, pada tanggal 22 Oktober 2015 yang bertepatan dengan Hari Energi Dunia (World

Permasalahan Seputar PLTMH

Keberadaan teknologi dalam kehidupan manusia selalu memiliki sisi baik dan buruk. Begitu pula dengan teknologi yang satu ini: Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Bukan termasuk teknologi yang terlalu canggih atau baru, tetapi bagi masyarakat yang awam, tetap tidak mudah untuk merawat dan membuatnya terus bekerja sesuai kegunaannya. PLTMH merupakan “edisi” mikro dari pembangkit listrik tenaga air. Disebut mikro, karena pembangkit ini berkapasitas antara 0,5 – 100 kW. Bagi orang yang sudah berkecimpung di dunia energi, kelistrikan atau paling tidakmengerti  bagaimana energi