Undangan Webinar di 8th International YEA ECADIN-BEM UI

Pada hari Minggu, 29 September 2019, Yayasan Energi Bersih Indonesia (EnerBI) diundang untuk berbagi pengalaman kami dalam melaksanakan proyek-proyek energi terbarukan di acara Online Sharing (Webinar): 8th International Youth Environment Action (YEA) yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) bersama Energy Academy Indonesia (ECADIN). Pada acara ini EnerBI diwakili oleh Direktur Penelitian dan Pengembangan Aloysius Damar Pranadi (atau akrab disapa Damar). Pada pemaparannya Damar berbagi cerita tentang bagaimana EnerBI menciptakan kreasi bersama komunitas dan masyarakat lokal dalam melaksanakan proyek-proyek energi terbarukan di Gunung Kidul, Yogyakarta dan Pulau Maratua di Kalimantan Timur.

 

Dengan topik Pemberdayaan Masyarakat Menuju Transisi Energi, EnerBI juga ditemani oleh salah satu peneliti komunitas di Belanda, Thijs Bouman (Universitas Groningen) sebagai pembicara dan Dwi Sasetyaningtyas atau disapa Tyas (Pendiri Sustaination) sebagai pendiskusi. Diskusi ini langsung dibawakan oleh Ketua BEM UI, Manik Marganamahendra.

 

Berbeda dengan presentasi EnerBI yang lebih menonjolkan sisi penerapan praktis  energi terbarukan pada proyek berbasis masyarakat, presentasi dari Universitas Groningen lebih kepada arah bagaimana secara psikologi, penggunaan energi di komunitas itu sangatlah penting. Selanjutnya, kedua presentasi ditambahkan oleh Tyas tentang bagaimana pengalamannya saat bergabung bersama Hivos untuk mengenal proyek elektrifikasi di Sumba. Menurutnya, sangat sulit dalam mengajak masyarakat mengenal listrik sedangkan masyarakat Sumba sendiri tidak butuh listrik sepenuhnya. Tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah Indonesia dalam program elektrifikasi nasionalnya. Ini mengawali diskusi pada webinar ini.

 

EnerBi berbagi bahwa untuk merancang sistem yang berkelanjutan, perlu adanya sebuah wadah/organisasi lokal yang siap secara teknis dan kapasitas untuk melanjutkan kinerja sistem yang telah dibuat. Proyek EnerBI sendiri telah terlaksana dari tahun 2015 hingga sekarang, dan bahkan proyek prakarsanya telah dimulai dari tahun 2009 (melalui organisasi mahasiswa dari UGM bernama Kamase). Selain itu, EnerBI juga menggaris-bawahi pentingnya Rasa Kepemilikan Warga (Sense of Belonging) dan Jiwa Gotong Royong bersama dalam mencapai keberlanjutan. Selain itu, kesetaraan dan peran gender dalam proyek sangat penting karena manfaat dan keterlibatan wanita dalam sistem energi terbarukan lokal sangatlah penting. Gotong royong semua elemen masyarakat sangat perlu untuk memahami bahwa sistem ini dibuat oleh dan untuk masyarakat itu sendiri.’

 

Apresiasi datang dari pendiskusi, bahwa sangat penting keterlibatan masyarakat dan gotong royong. Moderator juga menyampaikan beberapa pertanyaan mengenai proyek EnerBI dan juga energi transisi, yang secara detail terangkum pada rekaman di link berikut ini:  https://www.youtube.com/watch?v=T4-0kxTijY0.

 

Selain itu, seluruh pendiskusi berharap bahwa Dana Desa dari Pemerintah seharusnya mulai didorong kearah aktivitas yang mendukung transisi energi. Pemerintah juga disarankan mengidentifikasi kebutuhan masyarakat local dahulu, sebelum menelurkan program nasional. Apabila masyarakat local tidak butuh listrik tetapi butuhnya air bersih, program dana hibah seharusnya dialirkan sesuai kebutuhan rakyat. Juga, teruntuk organisasi-organisasi pelaksana diharapkan juga lebih berkonsentrasi pada proyek yang bisa menjamin keberlanjutan. Dari pengalaman EnerBI, terkadang memang untuk menjaga keberlanjutan warga harus mengenal EnerBI sebagai bagian dari warga Desa dan demikian juga warga Desa sebagai bagian dari EnerBI.

 

Pada intinya, diskusi mengarah pada perlunya perhatian pemerintah dalam mengadakan dan mempercepat energi transisi. Jika anda berkenan memiliki presentasi EnerBI, silahkan menghubungi langsung ke tim EnerBI melalui email: info@EnerBI.co.id.

 

Terima kasih dan nantikan kegiatan EnerBI selanjutnya. Salam terbarukan!