Diskusi Warung Kopi 4 Agustus 2018

Dari beberapa teknologi yang telah ada, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) diharapkan menjadi pelengkap dalam pencapaian target energi terbarukan di tahun 2025 dan hanya saja perlu adanya partisipasi yang lebih aktif dari pemerintah baik pengembang dalam memanfaatkan teknologi ini.

 

Itu adalah salah satu kesimpulan yang mengemuka dalam Diskusi Warung Kopi (DWK) yang diadakan oleh Yayasan Energi Bersih Indoensia (Enerbi) yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 4 Agustus 2018 lalu di Café Eatopia, Jakarta.

 

Dalam diskusi yang bertema “Potensi, Tantangan dan Status Pengembangan Teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) menuju target 23% energi terbarukan di Indonesia” ini menghadirkan empat pembicara utama, yaitu Bapak Harris dari Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM), Bapak Didik Rostyono dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Bapak Dwi Ari Wibowo dari UPC Renewable Indonesia dan Prof. Adi Surjosatyo dan Tim dari Bungin Techno Village

 

Berdasar pada Kebijakan Energi Nasional (KEN), Indonesia menargetkan pembangkitan total dari energi terbarukan diharapkan mencapai 45 GW dari total pembangkit 135 GW (atau setara dengan 33%) dengan kontribusi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang diharapkan mencapai 1.8 GW atau setara dengan 4% dari seluruh pembangkit energi terbarukan. Tentu angin menjadi salah satu pelengkap untuk Indonesia dalam menghasilkan listrik dari energi bersih, selain daripada tenaga surya, panas bumi dan air. Teknologi angin bersama teknologi lainnya akan berkontribusi untuk Peningkatan penyediaan energi, Percepatan penyediaan akses energi modern, Penurunan GRK yang mana ndonesia berkomitmen 29% penurunan GRK pada tahun 2030, sektor energi ditargetkan berkontribusi sebesar 314 juta ton CO2 dan Sebagai Pendorong ekonomi hijau. Berdasarkan paparan dari Bapak Harris, selama ini teknologi angin selalu dipandang sebelah mata di Indonesia. Saat ini, pemerintah sedang semangat untuk mengembangkan teknologi angin di dalam negeri, oleh karena keberhasilan Proyek Sidenreng Rappang (Sidrap) dan akan diikuti banyak nantinya dalam beberapa tahun ke depan. “Momen keberhasilan Sidrap harus dapat menjadi daya dorong yang berkelanjutan dalam pengembangan energi angin agar Indonesia bisa mencapai target pada tahun 2025” kata Bapak Harris kepada para hadirin. Dapat kita ketahui bahwa kedepannya beberapa PLTB akan berkembang untuk memenuhi kebutuhan listrik lebih banyak lagi dengan adanya PLTB Jeneponto, dan 22 proyek lainnya.

 

Dalam DWK ini, EnerBI juga mengundang BPPT untuk berbagi bagaimana teknologi angin telah berkembang di Indonesia. BPPT memaparkan bagaimana potensi angin di Indonesia dan beberapa hal teknis terkait tentang teknologi angin. BPPT menyimpulkan untuk potensi-potensi angin yang diatas 5 m/s umumnya telah diambil oleh pengembang asing. Sedangkan pengembang Indonesia hanya dapat memanfaatkan yang di daerah < 5 m/s. BPPT mengukur potensi angin hanya 25 GW, hanya sepertiga yang selalu ditampilkan ESDM dalam paparanya. Hal ini dikarenakan BPPT mempertimbangkan lokasi yang digunakan oleh sektor lainnya (hunian dll), sehingga area berpotensi lebih sempit. Biasanya teknologi angin juga terkendala masalah permintaan beban. Lokasi yang potensi anginnya tinggi adalah lokasi yang bebannya rendah.

 

Pemanfaatan teknologi angin, tidaklah sebatas komersial, melainkan juga dapat membantu masyarakat-masyarakat di daerah. Di Pulau Jawa saja, masih ada sebagian kecil masyarakat yang memiliki permasalahan. EnerBI menghadirkan Prof. Adi, selaku perwakilan dari Bungin Techno Village, untuk mendengar bagaimana teknologi angin dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial. Sesama komunitas energi, Bungin Techno Village mengapresiasi kegiatan EnerBI dalam mempertemukan semua elemen di sektor energi untuk berdiskusi dan berbagi ide.

 

Sebagai tamu utama, UPC Renewable Indonesia selaku pengembang Sidrap juga menyampaikan paparannya pada DWK EnerBI. Juli ini, UPC telah membangun PLTB pertama komersial di Indonesia yaitu PLTB (Sidrap), Sulawesi Selatan. PLTB pertama di Indonesia ini Total investasi Sidrap sebesar 150 juta USD, bisa mengaliri listrik ke 70 ribu lebih pelanggan berdaya 900 Volt Ampere (VA). Proyek Sidrap berlangsung selama 3 tahun dari tertanda tanganinya PPA. Sidrap juga memanfaatkan 84% dari tenaga kerja lokal (Sulawesi).

 

Diskusi yang dihadiri oleh sekitar 20an peserta dari berbagai latar belakang ini, ditutup dengan tanya jawab dan makan bersama EnerBi dan pembicara. Untuk selanjutnya, EnerBI akan mengangkat tema tenaga air.