DWK Desember 2017, Pengembangan Energi Listrik Berbasis Energi Terbarukan di Indonesia

Sabtu 9 Desember 2017, EnerBI kembali mengadakan salah satu kajian rutin mengenai perkembangan energi terbarukan di Indonesia bertempat di Eatopia Caffe yang terletak di bilangan Setiabudi, Jakarta Selatan. Diskusi yang mengambil konsep keakraban di warung kopi ini bertemakan “Pengembangan Energi Listrik Berbasis Energi Terbarukan: Investasi, Kebijakan, Potensi, Implementasi dan Tantangan”. Diskusi ini dilatarbelakangi oleh adanya pendapat dari seluruh elemen energi baik dari sisi pemerintah, pengembang, civitas akademika, dan komunitas dalam pengembangan potensi energi terbarukan dengan semua tantangannya.

 

Bapak Laode Sulaiman, Kasubdit Investasi Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia membuka diskusi dengan memaparkan bahwa Indonesia saat ini memiliki rasio elektrifikasi sebesar 93,08% dan telah sukses melakukan pembangunan listrik sesuai dengan kebijakan 35.000 MW oleh pemerintah. Akan tetapi, listrik yang dihasilkan saat ini oversupply karena tidak sesuai dengan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kondisi oversupply tidak akan bertahan lama karena excess energy listrik yang dihasilkan akan menarik minat investor yang dapat mendukung pengembangan perekonomian di Indonesia. Bapak Laode menambahkan bahwa seharusnya kebijakan 35.000 MW lebih berfokus pada sector industri. Kebijakan penyederhanaan tariff listrik yang dilakukan oleh PLN di sector rumah tangga saat ini tidak akan terlalu membantu, karena konsumsi energy listrik di rumah tangga tidak setinggi konsumsi energi listrik di sektor industri.

Meskipun oversupply, Bapak Laode menambahkan bahwa masih banyak daerah di Indonesia yang belum mendapatkan akses listrik terutama daerah luar Jawa. Sulitnya akses di daerah pedalaman Indonesia mengakibatkan tingginya biaya pembangunan listrik sehingga harga listrik tidak dapat dijangkau oleh masyarakat. Hal  ini mendorong pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan terutama di daerah pedalaman melalui Kebijakan Energi Nasional. Komitmen pemerintah untuk mengembangkan sektor energi terbarukan juga didukung oleh keikutsertaan Indonesia dalam Paris Agreement untuk berkontribusi mengurangi emisi karbon. Saat ini, 50% sumber energi listrik di Indonesia berasal dari batubara. Padahal, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sebesar 440 GW dan total energi yang telah dimanfaatkan baru 2%.

 

Potensi energi terbarukan dan peluang pengembangan dari pemerintah juga didukung oleh skema penjualan listrik ke PLN yang saat ini menjadi lebih mudah sehingga menarik minat Independent Power Producer (IPP). Pada November 2017, PLN baru saja menandatangani jual beli listrik dengan Sembilan perusahaan IPP yang bergerak di sektor energi baru dan terbarukan (total kapasitas pembangkit sebesar 640,65 MW).

 

Meskipun memiliki potensi dan peluang, pengembangan masing-masing jenis energi terbarukan juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya adalah mahal dan sulitnya eksplorasi panas bumi di Indonesia. Untuk mengatasi tantangan tersebut, saat ini pemerintah memberikan kontribusi dana eksplorasi panas bumi yang dulunya masih dipegang penuh oleh investor. Selain masalah teknologi, terdapat masalah kebijakan pada pemerintah daerah yang masih sulit untuk ikut mendukung pengembangan energi. Sebagai contoh, pemerintah daerah di salah satu wilayah meminta biaya untuk membayar sampah yang akan dipakai sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) meskipun hal itu secara lingkungan bermanfaat bagi wilayah tersebut untuk mengurangi jumlah penumpukan sampah. Pengembangan energy surya juga memiliki tantangan berupa sulitnya menyalurkan kelebihan energi produksi di siang hari kejaringan PLN. Bapak Laode menambahkan bahwa meskipun banyak tantangan yang harus dihadapi, akan selalu ada celah dalam perkembangan energi terbarukan. Dapat dilihat dari harga panel surya yang saat ini menjadi lebih murah sehingga dapat dijangkau dengan mudah oleh masyarakat yang ingin memiliki pembangkit panel surya di rumahnya. Beliau juga menambahkan bahwa kontribusi dari semua pihak sangat diperlukan, salah satunya adalah kontribusi dari civitas akademika dan komunitas seperti Yayasan Energi Bersih Indonesia (EnerBI).

 

Sesuai dengan cita-citanya, saat ini EnerBI sudah mengembangkan energi terbarukan di beberapa wilayah di Indonesia melalui dana hibah yang diberikan oleh pemerintah atau swasta salah satunya adalah proyek pembuatan es balok untuk nelayan lokal di Pulau Maratua yang sedang berjalan saat ini. Bapak Nur Setianto, Project Manager untuk Program Pembangunan Mesin Es Balok menggunakan Energi Matahari, mengatakan bahwa mengembangkan energi terbarukan di masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan dana dan teknologi. Pendekatan secara intensif kepada masyarakat diperlukan agar rasa memiliki dapat ditanamkan kepada masyarakat. Rasa memiliki ini akan membuat masyarakat memiliki tanggung jawab untuk merawat dan memanfaatkan fasilitas energi terbarukan yang telah dibangun. Hal ini mengingat adanya beberapa fasilitas energi terbarukan oleh pemerintah yang akhirnya mangkrak karena tidak ada monitoring berkelanjutan dan sosialisasi kepada masyarakat.