PLTS di Dusun Rejosari Gunung Kidul Lama Tak Beroperasi

Pada tahun 2013, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meluncurkan program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat yang tersebar di lebih dari 100 desa di Indonesia. Salah satu lokasi yang mendapatkan program ini adalah Dusun Rejosariyang terletak di Kelurahan Serut, Kecamatan Gedang Sari,Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.Kapasitas PLTS Terpusat ini adalah 15 Kilo Wattpeak (KWp). LIstrik yang dihasilkan oleh sistem ini dimanfaatkan oleh 65 kepala keluarga (KK) di dua Rukun Tetangga (RT) yaitu RT 25 dan RT26 Dusun Rejosari, Kelurahan Serut, Kecamatan Gedang Sari, Gunung Kidul, Yogyakarta. Berdasarkan data yang ada, PLTS ini juga melistriki 1 pusat komunitas, 1 rumah ibadah, 2 institusi sosial serta 58 lampu penerangan jalan.

Foto Rumah pembangkit PLTS 15 KWP di Dusun Rejosari

Dusun Rejosari terdiri dari lima RT dimana terdapat dua RT yaitu RT 25 dan RT 26, yang memiliki masalah pasokan listrik. Berdasarkan keterangan dari Kepala Dusun Rejosari, Bapak Sarno, di kedua RT ini listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) seringkali padam. Karena itu sistem PLTS terpusat pada awalnya ditujukan untuk sekitar 40 KK di RT 25 dan RT 26. Selain itu, listik dari PLTS terpusat juga dimanfaatkan oleh 21 KK di RT 25 yang tidak terjangkau jaringan listrik PLN. Tidak adanya penerangan jalan umum, juga menjadi salah satu alasan PLTS terpusat dibangun di Dusun Rejosari.

 

Sistem ini dibangun pada pertengahan tahun 2012 dan mulai beroperasi pada bulan Maret 2013. Pemakaian listrik pada rumah tangga yang menerima manfaat dari sistem ini dibatasi 250 Wh per hari dengan menggunakan alat energy limiter. Pada setiap rumah, terpas ang 4 lampu LED dengan daya 5 W. Tarif listrik yang dikenakan pada pengguna rumah tangga besarnya sama rata, yaitu 7.000 rupiah.

 

Menurut keterangan warga dan Kepala Dusun Rejosari, PLTS terpusatmampu bekerja dengan maksimal pada tiga tahun pertama sejak mulai operasi(2013 – 2016). Namun di pertengahan tahun 2016, muncul beberapa permasalahan pada sistem, mulai dari kerusakan kecil seperti lampu penerangan jalan yang mati, energy limiter yang bermasalah sampai kerusakan besar pada salah satu inverter. Kerusakan inverter pertama terjadi pada pertengahan tahun 2016, kemudian disusul kerusakan inverter kedua dan ketiga di awal dan pertengahan tahun 2017. Warga sudah melaporkan kerusakan ini pada beberapa pihak, dan sudah ada tindak lanjut dengan kunjungan ke lokasi dan penggantian fuse pada inverter. Namun sampai artikel ini dimuat, sistem PLTS ini masih belum dapat beroperasi.

 

Kerusakan ini mengakibatkan permasalahan bagi masyarakat, terutama untuk 21 rumah tangga di RT 25 yang belum mendapat pasokan listrik PLN. Mereka tidak lagi mendapatkan pasokan listrik untuk kebutuhan rumah tangga. Solusi sementara dari 21 rumah tangga ini adalah menarik kabel dari rumah yang sudah mendapat listrik PLN yang hanya dapat digunakan untuk penerangan serta mengisi baterai handphone. Selain itu, semua lampu jalan di RT 25 dan RT 26 saat ini juga tidak berfungsi, yang berakibat pada terbatasnya aktivitas masyarakat di malam hari. Masyarakat tidak lagi berani berkegiatan di malam hari karena kontur jalan yang berbahaya jika dilewati tanpa penerangan jalan yang optimal.

Tim Enerbi