Teknologi untuk Komunitas

Konsep pembangunan berkelanjutan yang mengisyaratkan agar apa yang kita lakukan saat ini tidak membebani kehidupan generasi masa depan semakin didengungkan. Hal tersebut dilandasi oleh kesadaran akan kondisi dunia saat ini, yaitu kelangkaan bahan bakar minyak dan polusi udara. Saat ini, energi listrik sebagai bentuk energi populer di masyarakat masih didominasi dari bahan bakar fosil. Budaya yang diwariskan dari penggunaan bahan bakar fosil semakin memperparah kondisi dunia dengan menimbulkan polusi udara dan kebakaran hutan sebagai efek samping pemanasan global. Selain itu, terjadi kelangkaan bahan bakar minyak sebagai sumber energi penggerak untuk menghasilkan energi listrik. Meskipun demikian, kelangkaan bahan bakar minyak dapat pula dipandang sebagai sisi positif, yaitu ‘memaksa’ manusia untuk mencari sumber energi lain yang ‘lebih baik’.

Pada era penggunaan bahan bakar minyak, pembangkitan sumber energi bersifat terpusat, artinya pembangkitan energi listrik dilakukan di titik-titik tertentu dengan potensi minyak mentah atau batu bara tinggi. Hal tersebut dapat dilakukan karena potensi-potensi energi tersebut bersifat sentralistik. Dengan demikian, perumusan teknologi untuk mengatasi masalah-masalah di lapangan hanya terjadi di titik-titik tertentu pula. Selain itu, hanya akan ada orang-orang tertentu yang ‘berkecimpung’di dalamnya, yaitu operator and maintenance staff. Sementara itu, masyarakat hanya akan diposisikan sebagai objek atau sepenuhnya konsumen.

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, energi terbarukan seperti energi air, energi angin, energi matahari, energi biogas, energi gelombang laut, energi panas bumi, dan energi nuklir diklaim sebagai solusi atas masalah kelangkaan bahan bakar minyak dan polusi udara. Berbeda dengan era penggunaan bahan bakar minyak, pada era penggunaan energi terbarukan, teknologi dan kebijakan sentralistik dan statis tidak dapat diterapkan. Hal tersebut disebabkan karena pengembang pembangkit tidak dapat menambang postensi energi terbarukan di sembarang tempat (kecuali energi nuklir). Ekstraksi energi terbarukan hanya dapat dilakukan di lokasi dengan potensi energi terbarukan optimal. Selain itu, diperlukan upaya mempertimbangkan faktor operasi dan pemeliharaan pembangkit karena akan ada banyak pembangkit yang terdistribusi di seluruh wilayah yang berpotensi. Dengan demikian, pemeliharaan dan pengoperasian pembangkit dilakukan oleh setiap konsumen/komunitas secara mandiri. Agar pembangkitan energi terbarukan mempunyai keberlanjutan maka diperlukan teknologi pembangkitan yang sesuai dan handal untuk konsumen/komunitas tersebut.

(Dhanis Woro)