Menghemat Energi Mulai dari Rumah

Masalah energi di Indonesia memang tidak pernah berhenti diperbincangkan dari dulu sampai sekarang, oleh siapa saja dan di mana saja, mulai dari tukang becak, sopir angkot, sampai pejabat tinggi negara seperti anggota DPR dan partai politik. Dibicarakandi berbagai tempat, mulai di angkringan, warteg, kafe, hingga diseminarkan di hotel berbintang lima. Isu yang dibicarakan juga beragam, mulai dari isu ketersediaan energi (energy supplay), impor BBM, teknologi konversi, subsidi, konservasi dan penghematan energi, energi terbarukan, hingga kepentingan politik yang menyertai isu seputar energi. Entah sudah berapa banyak kertas kerja yang dihasilkan, peta jalan yang dibuat, cetak biru yang disepakati, tapi dari sekian kertas kerja, cetak biru dan peta jalan tersebut yang benar-benar dilaksanakan? Konon cetak biru pengembangan energi terbarukan sudah dibuat sejak dekade 80-an, tetapi sampai sekarang sektor tersebut masih jalan di tempat. Masalah masih datang silih berganti. Satu masalah belum selesai, disusul dengan masalah baru. Produksi minyak yang terus menurun dan konsumsi yang terus meningkat belum terselesaikan, mobil murah siap menghisap pasokan energi kita. Belum lagi jika kita bicara emisi karbon yang turut menyumbang pemanasan global dan perubahan iklim, yang dampaknya sudah nyata dirasakan oleh masyarakat sekarang.

Kita cenderung fokus pada persoalan-persoalan besar, dan justru melupakan hal yang kecil dan dekat yang bisa kita lakukan untuk sedikit mengurai benang kusut energi di Indonesia. Hal yang paling dekat dengan kita adalah rumah. Upaya konservasi energi dapat dimulai di rumah. Maka, judul di atas menemukan relevansinya, dalam kaitannya dengan upaya konservasi energi di rumah (dan bangunan gedung pada umumnya). Judul di atas merupakan terjemahan dari salah satu edisi National Geographic Maret 2009, yang judul aslinya adalah Saving Energy, It Starts at Home.

Mengapa Rumah (Bangunan Gedung)?

Kenapa rumah? Kenapa tidak sektor lain seperti industri, manufaktur, transportasi, atau sektor-sektor yang lain. Bukankah menurut data penelitian (survei) sektor transportasi dan industri mengonsumsi lebih banyak energi bila dibandingkan dengan rumah, atau bangunan gedung pada umumnya. Selain karena bangunan gedung lebih dari 40% energi primer, efisiensi pada bangunan gedung memiliki potensi terbesar untuk mereduksi CO2dengan biaya terendah bila dibandingkan dengan sektor lain (IPCC, 2006). Selain itu, bangunan gedung juga sektor terbesar kedua yang mengeksploitasi sumber daya alam setelah makanan.

Rumah, dan bangunan gedung pada umumnya, dilengkapi dengan sistem mekanikal dan elektrikal. Gambar 1 menunjukkan potensi penurunan emisi karbon pada beberapa komponen bangunan gedung, termasuk didalamnya adalah peralatan listrik (electric appliances) serta selubung bangunan (building envelope). Dengan beberapa improvement pada komponen gedung, reduksi emisi CO2 terlihat signifikan dengan biaya yang relatif rendah. Sehingga, konservasi energi (beserta upaya reduksi emisi karbon) lebih mudah dilakukan pada rumah (dan bangunan gedung), dengan impact yang relatif besar.

Bagaimana Caranya?

Bagaimana sektor rumah dapat memberikan kontribusi pada upaya konservasi energi? Yang pertama dan utama adalah pada pola perilaku (behavior) penghuni rumah tersebut. Beberapa studi memperlihatkan bahawa perilaku turut memberi andil 30% dalam upaya konservasi energi. Mematikan alat listrik yang tidak terpakai, adalah salah satu contoh sederhana konservasi energi di rumah. Penggunaan alat listrik dengan efisiensi tinggi (tanpa mengurangi kenyamanan penghuni), adalah contoh lain.

Memang tidak mudah untuk membentuk perilaku yang mendukung upaya konservasi energi. Mind set masyarakat kita sudah berpuluh-puluh tahun dibentuk dengan pemahaman bahwa Indonesia kaya akan sumber daya alam (termasuk energi), sehingga terlena bahkan tidak menyadari bahwa Indonesia sudah diambang krisis energi. Mind set ini sudah terbentuk mulai dari pendidikan dasar, dan akhirnya mengendap dalam alam bawah sadar. Mengubah mind set ini tidak mudah, apalagi jika melihat demografi bangsa Indonesia yang tingkat pendidikannya masih relatif rendah. Maka, kunci utama dalam proses ini adalah membangun kesadaran kolektif masyarakat kita tentang sebuah fakta bahwa sumber daya alam kita suatu saat akan habis. Harus ada perubahan yang mendasar dalam kurikulum pendidikan kita terkait dengan pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam. Selain itu juga dibutuhkan upaya sosialisasi yang massif dan ekstensif kepada seluruh lapisan masyarakat tentang perlunya konservasi energi. Energi Bersih Indonesia (EnerBI), dalam salah satu misinya juga menekankan pada proses ini: edukasi, sosialisasi, dan disseminasi, untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat, mengingat proses ini sangat penting dalam upaya konservasi energi menuju pembangunan berkelanjutan.

Yang kedua, upaya konservasi energi dapat dilakukan dengan memanfaatkan apa yang disebut dengan desain pasif pada bangunan gedung. Termasuk di dalam desain pasif antara lain bahan bangunan, selubung bangunan, bukaan (opening), shading, penataan massa bangunan dan lingkungan, orientasi bangunan, dan sebagainya. Desain pasif pada umumnya dirancang untuk merespon faktor iklim (mikro) di mana bangunan (rumah) tersebut berada. Tentu saja, desain pasif antara Indonesia yang memiliki iklim panas lembab akan berbeda dengan desain pasif di Jepang misalnya, atau di Arab Saudi. Demikian juga, desain pasif antara beberapa daerah yang memiliki iklim lokal (atau mikro) berbeda akan memiliki desain pasif yang berbeda (misalnya antara Bandung dan Jakarta, antara Malang dan Surabaya).  Berlawanan dengan desain pasif, desain aktif adalah pemanfaatan instrumen/alat bantu tertentu untuk mendapatkan kenyamanan dalam rumah, seperti misalnya AC, kipas angin, pemanas (heater), dan sebagainya.

Untuk contoh kasus di Indonesia misalnya, disarankan menggunakan bahan bangunan yang insulatif dengan kapasitas panas yang besar serta time lag yang moderat dan decrement factor yang rendah, orientasi bangunan menghindari memanjang Utara-Selatan untuk menghindari beban pemanasan matahari, serta bukaan yang optimum untuk memaksimalkan ventilasi silang. Interior rumah ditata sedemikian rupa dengan penyekatan minimum agar suhu udara dapat terdistribusi secara merata di dalam rumah. Penempatan zona servis (dapur), zona utama (ruang tamu), dan ruang tidur sedemikian rupa sehingga heat gain pada ruang-ruang tersebut dapat optimum dan nyaman untuk aktifitas sehari-hari tanpa desain aktif. Bentuk atap dan bahan atap dirancang sedemikian rupa sehingga mengurangi radiasi langsung yang tinggi saat siang hari. Penataan bangunan dan jarak antarbangunan perlu ditata sehingga angin dapat mengalir dengan lancar dan mengurangi efek Eddy (Eddy effect). Di sekitar bangunan juga perlu diperbanyak dengan vegetasi untuk menyerap radiasi dan mengurangi radiasi pantul. Sebaiknya dihindari penggunaan pavement yang tidak dapat menyerap radiasi. Hal-hal tersebut adalah salah satu contoh penggunaan desain pasif untuk mengurangi penggunaan energi dalam bangunan gedung, terutama energi untuk mendapatkan kenyamanan termal di dalam rumah. Beberapa studi memperlihatkan bahwa energi untuk mendapatkan kenyamanan termal mengambil prosi terbesar dalam konsumsi energi

Rumah tradisional di Indonesia dipercaya sebagai bangunan yang responsif terhadap iklim setempat. Bangunan tradisional mampu memberikan kenyamanan termal bagi penghuninya dengan pemakaian energi yang minimum. Prinsip-prinsip desain pasif pada rumah tradisional tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan konsep bangunan rumah yang hemat energi. Apalagi, Indonesia yang kaya budaya juga memiliki beragam arsitektur tradisional. Selain rumah tradisional, bebeapa penelitian juga menunjukkan bahwa bangunan kolonial memiliki kinerja termal yang lebih baik daripada rumah tradisional, apalagi untuk konteks perkotaan. Meskipun demikian, dibutuhkan usaha yang besar untuk dapat memanfaatkan desain pasif tersebut pada rumah modern, mengingat konteks lingkungan yang ada saat ini sudah jauh berubah dan berbeda. Konsep desain tersebut akan menemui kesulitan ketika ditempatkan di kota. Fenomena Urban Heat Island (UHI), serta terbatasnya lahan untuk pengembangan desain pasif menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi dan diatasi ketika melakukan pendekatan desain pasif di lingkungan perkotaan, terutama apabila menyangkut objek bangunan gedung tinggi dan modern (sophisticated building). Sehingga, dalam konteks ini sangat mustahil hanya melakukan pendekatan pasif untuk konservasi bangunan, tanpa disertai dengan pendekatan aktif.  Sekedar mengingatkan, PBB (UN Habitat) memperkirakan bahwa sekitar 60% penduduk dunia akan tinggal di kota, sehingga ini merupakan tantangan sekaligus peluang besar bagi upaya konservasi energi.

Ketiga, adalah dengan memanfaatkan energi baru dan terbarukan pada bangunan gedung (dan rumah). Banyak teknologi energi terbarukan yang dapat digunakan sebagai bahan komplementer untuk mensuplai energi pada rumah, seperti misalnya energi matahari, angin, biomassa, dan sebagainya. Solar Home System, Solar Water Pumping System, Solar Water Heater, adalah salah satu teknologi yang dapat dimanfaatkan di rumah (dan bangunan gedung). Demikian juga dengan biomass (dan biogas). Energi  tersebut yang melimpah di Indonesia, serta sifatnya yang dapat diperbaharui, dapat menjadi energi alternatif dalam upaya konservasi energi dan reduksi gas rumah kaca.

Isu Terkini

Dewasa ini, isu tentang krisis energi, emisi gas rumah kaca serta perubahan iklim menjadi isu mainstream dalam pembangunan global. Isu pembangunan berkelanjutan (sustainable development) tiba-tiba menjadi tema sentral dalam setiap wacana, mulai dari ekonomi berkelanjutan hingga bangunan berkelanjutan. Derivasi dari isu-isu tersebut pada sektor bangunan (rumah) antara lain mengejawantah pada isu bangunan hijau (green building), zero energy building, dan sustainable building. Berbagai definisi tentang hal tersebut sudah diberikan, baik oleh akademisi maupun lembaga-lembaga yang lain. Namun, kesamaan dari definisi tersebut adalah meminimalkan penggunaan energi (dan sumber daya alam yang lain: air, dsb) tanpa mengurangi tingkat kenyamanan dan kesehatan penghuninya.

Green building, mulai dikenal pertama kali sejak LEED (Leadership in Energy and Environmenyal Design) yang berbasis di Kanada mengeluarkan green building rating untuk menilai apakah bangunan tersebut “ramah lingkungan” atau tidak. Terdapat enam parameter utama yang digunakan, diantaranya adalah energi, air, dan sampah. Segera gerakan ini diikuti oleh pendirian lembaga yang serupa di beberapa negara, termasuk Indonesia. Beberapa negara memiliki sistem penilaian sendiri di luar LEED (atau WGBC/World Green Building Council) seperti Inggris (BREAM) dan Jepang (CASBEE). Namun beberapa negara mengadopsi metode yang digunakan LEED, termasuk Indonesia yang memiliki GBCI (Green Building Council Indonesia) yang berafiliasi dengan WGBC. Sistem penilaian di Indonesia disebut Greenship, dengan beberapa parameter utama antara lain: energi, air, sampah, lanskap, dsb. Di Indonesia sendiri, selain GBCI, Kementerian Lingkungan Hidup juga mengeluarkan standar tentang Bangunan Ramah Lingkungan, yang isinya tidak jauh berbeda dengan Greenship. Demikian juga Kementerian ESDM dan Kementerian PU juga seolah “berlomba” untuk mengeluarkan aturan dan pedoman tentang bangunan hijau.

Isu lain adalah tentang Zero Energy Building (ZEB).  Secara sederhana, ZEB didefinisikan sebagai “buildings can meet all their energy requirements from low-cost, locally available, nonpolluting, renewable sources”. Dari definisi tersebut sangat jelas bahwa ZEB menekankan pada beberapa aspek sekaligus, diantaranya adalah pemanfaatan energi terbarukan. ZEB menghasilkan energi terbarukan on site yang sama atau lebih besar daripada energi yang digunakan. Artinya, sebagian besar (bahkan 100%) energi yang digunakan dalam bangunan gedung tersebut berasal dari energi terbarukan. Meskipun demikian, dalam prakteknya ZEB juga tidak dapat terpisahkan dari sistem energi secara umum. ZEB di Singapura (di bawah otoritas Building and Construction Agency) misalnya, masih menghubungkan antara sistem energi terbarukan pada bangunan dengan grid listrik nasional. Terdapat hierarki pada ZEB, sebagaimana terlihat pada Tabel 1. Selain Singapura, beberapa negara juga mengembangkan ZEB sesuai dengan konteks kewilayahan masing-masing, seperti misalnya gedung Cambria di Pennsylvania, CBF di Maryland, Thermal Test Facility di Colorado, dan Science House di Minnesota.

Simpulan dan Penutup

Upaya konservasi energi dapat dimulai dari yang paling dekat dengan kehidupan kita, yaitu rumah, melalui perilaku yang sadar energi. Pada tahap selanjutnya, konservasi energi dapat dilakukan dengan memanfaatkan sistem pasif pada bangunan gedung serta pemanfaatan energi terbarukan. Upaya ini membutuhkan kerja keras, mengingat tingkat kehidupan ekonomi masyarakat kita yang kurang merata, dan sebagian besar masih hidup miskin. Upaya konservasi energi mensyaratkan (prerequisite) bahwa kebutuhan utama masyarakat akan perumahan terpenuhi, sehingga mereka dapat mengembangkan rumah mereka lebih jauh untuk mendukung konservasi energi. Alih-alih konservasi energi, untuk berteduh aja masyarakat masih belum mendapatkan hunian yang layak dan laik. Karena itu, dukungan pemerintah melalui kebijakan sangat dibutuhkan.

Indonesia masih sangat terlambat dalam merespon wacana yang berkembang terkait dengan wacana green building dan zero energi building. Pemerintah, melalui kementerian/lembaga masih belum sinkron dalam merespon isu tersebut. Sementara itu, GBCI yang beroperasi di Indonesia belum mampu meng-cover semua kebutuhan tersebut, apalagi sudah mulai terdengar suara sumbang terkait praktik labelisasi bangunan hijau oleh GBCI. Aturan yang ada masih belum kejelasan, standar-standar terkait dengan bangunan sudah berusia lebih dari 10 tahun dan tertinggal dengan perkembangan di luar, implementasi di lapangan masih jauh dari sempurna, serta infrastruktur untuk mendukung bangunan hijau masih belum siap 100%. Hal-hal tersebut adalah salah satu pekerjaan rumah pemerintah dan segenap komponen bangsa ini.

Muhammad Nur Fajri Alfata

Direktur Penelitian dan Pengembangan Energi Bersih Indonesia (Enerbi)