Kelas Menengah dan Konsumsi Energi

Kelas menengah Indonesia dengan jumlah hampir 60% dari total penduduk sekitar 250 juta jiwa telah menjadi sebuah definisi dari sekelompok kelas yang muncul belakangan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Apakah terdapat korelasi langsung antara munculnya kelas menengah dengan tingkat konsumsi energi? Sebelum lebih jauh, mari kita lihat beberapa definisi kelas menengah yang ada.

Menurut Asia Develompment Bank (ADB), kelas menengah Indonesia adalah kelompok dengan pengeluaran antara USD 2-20 per hari. ADB masih membagi kelas menengah menjadi tiga tingkatan yaitu lower (pengeluaran USD 2-4 per hari), medium (pengeluaran USD 4-10 per hari) dan top (pengeluaran USD 10-20 per hari). Menurut perhitungan ADB, kelas menengah Indonesia pada tahun 2010 berjumlah sekitar 56% dari total populasi penduduk. Senada dengan ADB, Bank Dunia juga mendefinisikan kelas menengah Indonesia adalah kelas dengan pengeluaran antara USD 2-20 per hari.

Berbeda dengan ADB dan Bank Dunia, Boston Consulting Group (BCG) mendefinisikan kelas menengah Indonesia adalah kelompok dengan pengeluaran rata-rata sebesar USD 200 per bulan. Dengan mengasumsikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6% per tahun, maka kelas menengah Indonesia akan melesat menjadi sekitar 141 juta orang pada tahun 2020. Menurut hasil penelitian McKinsley Global Institute, kelas menengah Indonesia mengambil porsi konsumsi domestik sebesar 61% dari total Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2010 dan akan mencapai 65% PDB pada tahun 2030. Hal ini dapat kita artikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada saat ini sangat ditentukan oleh pola konsumsi kelas menengah.

Dengan tingkat pertumbuhan yang mengagumkan, kelas menengah harus diwaspadai. Karena mereka akan meninggalkan jebakan ala kelas menengah yang sering terlupakan dalam jangka pendek. Perlindungan sosial, pembangunan infrastruktur, serta kemandirian pangan adalah faktor penting yang harus diperhatikan sejalan dengan tumbuhnya kelas menengah. Ketiga jebakan tersebut memang tidak akan dirasakan pengaruhnya dalam waktu dekat, namun 10-20 tahun ke depan jika tidak mendapat perhatian lebih akan memberikan dampak buruk secara langsung.

 

Kelas menengah bukanlah kelas biasa. Paling tidak ini tercermin dalam tingkat pendidikan mereka yang rata-rata adalah lulusan universitas/perguruan tinggi. Tingginya tingkat pendidikan berpengaruh secara langsung pada jenis pekerjaan, wawasan pengetahuan, kemampuan melek investasi/finansial, sampai dengan kesadaran politik yang tinggi. Kelas menengah adalah kelas yang juga menjadi ceruk baru bagi dunia industri otomotif.

 

Pengusaha sangat sadar bahwa mereka tidak bisa menggunakan pendekatan biasa untuk membuat kelas menengah tetap menjadi konsumtif. Dengan berbagai model marketing baru mereka sukses membuat kelas menengah sebagai ceruk pasar baru yang sangat menjanjikan. Salah satu contoh ada di industri otomotif. Statistik Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan terjadi peningkatan penjualan mobil pada tahun 2011 sebanyak 880 juta mobil dan meningkat pada tahun 2012 menjadi sebanyak 1,1 juta mobil. Pasar motor juga juga mengalami peningkatan dari 8 juta motor terjual pada 2011 menjadi 8,8 juta motor terjual di 2012.

 

Peningkatan penjualan kendaraan bermotor langsung akan meningkatkan pola konsumsi energi. Berdasarkan data olahan dari PT. Pertamina (Persero), pada tahun 2011 terdapat penyaluran BBM bersubsidi premium sebesar 25,5 juta kiloliter dan solar sebesar 14,5 juta kiloliter. Pada tahun 2012, jumlah BBM subsidi yang disalurkan meningkat menjadi 28,2 juta kiloliter untuk premium sedangkan solar menjadi 15,6 juta kiloliter. Diperkirakan penyaluran BBM subsidi di tahun 2013 ini adalah sebesar 31,3 juta kiloliter dan 16,7 juta kiloliter masing-masing untuk premium dan solar.

 

Kita seharusnya belajar dari aktual pengeluaran APBN 2012 lalu, di mana subsidi BBM mengalami kelebihan pembelanjaan sebesar 52,22% atau menjadi sebesar Rp. 211,9 Trilyun dari anggaran yang telah dianggarkan sebelumnya (yaitu sebesar Rp. 137,4 Trilyun). Begitu pula dengan subsidi listrik yang mengalami kelebihan pembelanjaan sebesar 45,7% atau menjadi sebesar Rp. 94,6 Trilyun dari yang seharusnya dianggarkan sebesar Rp. 64,9 Trilyun. Pada APBN 2013, pemerintah menganggarkan anggaran untuk subsidi BBM sebesar Rp. 193,8 Trilyun dan subsidi listrik sebesar Rp.80,9 Trilyun.

 

Kelas menengah pastinya sangat berpengaruh langsung terhadap laju konsumsi energi. Dengan kondisi ketahanan energi Indonesia saat ini yang belum terjamin, serta masih terlalu banyak subsidi yang masih belum tepat sasaran, membuat kita seharusnya berpikir ulang tentang makna dan tujuan subsidi terutama subsidi energi. Kelas menengah tidak layak mendapatkan subsidi (baca: subsidi energi) yang notabene menjadi hak masyarakat kelas bawah.

Nur Setianto