Telaah atas Konsep Green Building di Indonesia

Studi tentang Bangunan Hijau (Green Building) di Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari perkembangan isu bangunan hijau di dunia. Sistem penilaian bangunan hijau yang terkenal di dunia antara lain LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) dari Amerika Serikat, CASBEE (Comprehensive Assessment System for Built Environment Efficiency) dari Jepang, BREEAM (Building Research Establishment Environmental Assessment Method) dari Inggris, Green Star dari Australia, dan lain sebagainya. Di Indonesia, sistem penilaian bangunan hijau pertama kali diinisiasi oleh GBCI (Green Building Council Indonesia) dengan sistem penilaian yang diberi nama Greenship.

Isu tentang bangunan hijau banyak didiskusikan akhir-akhir ini, terutama jika dikaitkan dengan isu-isu global seperti perubahan iklim dan global warming. Meskipun banyak dikembangkan, terdapat perdebatan serta kontroversi seputar perkembangan bangunan hijau di dunia dan Indonesia. Chan, et al., (2009) misalnya, melihat bahwa isu bangunan hijau lebih dominan pada aspek bisnis dan ekonomi (pasar) daripada aspek teknis. Perdebatan juga merambah pada sisi teknis dan penerapan sistem penilaian bangunan hijau. Sistem penilaian bangunan hijau oleh LEED diprediksi dapat menurunkan konsumsi energi sekitar 18 – 39% bila dibandingkan bangunan non-hijau (Newsham, et al., 2009) meskipun kemudian dibantah oleh Scofield (2009). Dalam studinya, Scofield (2009) menemukan bahwa bangunan yang sudah bersertifikasi hijau dari LEED tidak menunjukkan kemampuan penghematan energi yang lebih baik bila dibandingkan dengan bangunan non-hijau. Bangunan yang bersertifikasi LEED juga tidak mengonsumsi energi lebih rendah bila dibandingkan dengan bangunan non-hijau. Scofield (2009) juga mengkritisi penggunaan parameter LEED untuk semua jenis bangunan tanpa melihat apakah bangunan tersebut termasuk bangunan besar (larger building) atau bangunan kecil (smaller building).

Tingkat kenyamanan bangunan hijau serta kepuasan penghuni atas bangunan hijau juga dipertanyakan oleh Gou, et al., (2013). Studi Gou et al., (2013) menunjukkan bahwa penghuni bangunan hijau ternyata merasa puas (satisfaction) pada aspek desain, kebutuhan dan produktifitas tapi kurang puas pada aspek kesehatan. Sementara itu, dari aspek kenyamanan, penghuni bangunan hijau merasa lebih nyaman terhadap kondisi udara pada musim panas tapi merasa kurang nyaman pada kondisi udara pada musim dingin. Gou et al., (2013) juga menyatakan bahwa bangunan hijau memiliki performa terbaik pada “forgiveness”, performa lebih baik pada “satisfaction”, dan performa kurang baik pada “comfort”. Forgiveness ini berkaitan dengan sikap yang prolingkungan (pro-environmental attitudes) pada penghuni, yang banyak ditemukan pada penghuni bangunan hijau bila dibandingkan dengan penghuni bangunan nonhijau (Deuble&de Dear, 2012). Karena itu, dalam konteks efektifitas bangunan hijau, dibutuhkan pergeseran sikap penghuni dari sikap yang awalnya pasif terhadap tehadap kondisi udara dalam ruangan, menuju sikap yang lebih aktif dalam memelihara kondisi udara dalam ruangan.

Studi yang lebih kritis terhadap kepuasan (satisfaction) dan kenyamanan (comfort) pada bangunan hijau dilakukan oleh Paul&Taylor (2008), yang menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menyatakan bahwa bangunan hijau lebih nyaman daripada bangunan nonhijau. Satu-satunya perbedaan antara bangunan hijau dan bangunan nonhijau adalah bahwa penghuni bangunan hijau cenderung merasakan udara dalam ruangan lebih hangat, dan menyebabkan tingkat kepuasan penghuni lebih rendah. Namun demikian, hal ini dapat dipahami karena bangunan hijau yang dikaji oleh Paul&Taylor (2008) berada pada iklim subtropis (temperate). Namun apabila dibandingkan dengan penelitian kenyamanan termal di daerah iklim tropis (misalnya, Karyono, 2000, 2008; Feriadi&Wong, 2008; Yamtraipat, et al., 2005; dan Hariyanto, 2005), penghuni bangunan gedung merasa nyaman pada suhu udara dalam ruangan yang lebih tinggi daripada yang distandarkan.

Dalam kaitannya dengan lingkungan sekitar, Olgyay&Herdt (2004) menyatakan bahwa tidak ada indikator kesehatan lingkungan dalam menilai dampak bangunan terhadap lingkungan sekitar. Studi Sharifi&Murayama (2013) terhadap tujuh sistem penilaian bangunan hijau untuk lingkungan menunjukkan sebagian besar kriteria penilaian tersebut bias pada kriteria sumber daya dan lingkungan, gagal dalam mengatasi persoalan keberlanjutan institusional (institutional sustainability), tidak memasukkan isu keberlanjutan yang integratif (integrated sustainability). Isu-isu penting seperti perumahan yang terjangkau (affordable housing), ekonomi lokal dan lapangan kerja (local economy and jobs), masyarakat yang terbuka (inclusive communities), dan mixed use (terutama aspek sosial dan ekonomi) belum menjadi perhatian tujuh sistem penilaian bangunan hijau untuk lingkungan. Tujuh sistem penilaian yang dikaji oleh Sharifi&Murayama (2013) antara lain LEED-ND (AS), EarthCraft Communities (ECC) dari AS, BREEAM Communities (Inggris), CASBEE-UD (Jepang), HQE2R (Perancis/UE), Ecocity (UE), dan SCR (Australia).

Terlepas dari perdebatan dalam penilaian serta evaluasi bangunan hijau, sistem penilaian yang lebih komprehensif perlu terus dikembangkan. Pengembanan sistem penilaian bangunan hijau tetap perlu mengacu kepada kriteria, indikator dan parameter serta sistem penilaian yang sudah ada, dengan tetap mempertimbangkan konteks dan aspek lokalitas dan karakteristik wilayah penerapan penilaian bangunan hijau (Malmqvist, et al., 2011; Ali&Al-Nsairat, 2009). Pengembangan sistem penilaian bangunan hijau di Swedia, sebagaimana dinyatakan oleh Malmqvist et al., (2011), merupakan second generation tool, yang tetap mengacu pada standar sistem penilaian yang ada sebelumnya tetapi dengan tetap memperhatikan konteks kebutuhan Swedia. Karena itu, sistem penilaian bangunan hijau di Swedia tidak berbeda dengan sistem penilaian yang lain (misalnya LEED, BREEAM, GBTool/SBTool, dll), tetapi lebih murah (low cost), sederhana (compact), dengan indikator berbasis kinerja yang lebih luas. Sementara itu, pengembangan sistem penilaian bangunan hijau di Yordania selain mengacu pada standar sistem penilaian yang sudah ada, juga menyesuaikan dengan konteks sosial, ekonomi dan lingkungan Yordania, sehingga sistem penilaian yang dihasilkan cocok dengan konteks Yordania: budaya, sumber daya, prioritas, penerapan dan institusi dan isu-isu terbaru (Ali&Al-Nsairat, 2009). Ali&Al-Nsairat juga memberikan lima rekomendasi dalam pengembangan sistem penilaian bangunan hijau, yaitu:

  1. Sistem penilaian seharusnya dibangun berdasarkan riset dan pengembangan serta pengetahuan teknis yang tepat
  2. Melibatkan banyak pemangku kepentingan, serta melibatkan proses yang bersifat partisipatif dan kolaboratif
  3. Bertujuan strategis, jangka panjang dan berkelanjutan
  4. Sistem penilaian seharusnya menyesuaikan dan cocok dengan konteks lokal/wilayah/ negara
  5. Dapat belajar dari pengalaman negara lain dan memanfaatkan hasil/karya para ahli dibidangnya.

Untuk menghasilkan sistem penilaian yang handal, Ali&Al-Nsairat (2009) mengusulkan agar sistem penilaian disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah serta melibatkan banyak pemangku kepentingan dalam sebuah proses yang partisipatif dan kolaboratif. Beberapa metode dapat digunakan untuk mengembangkan sistem penilaian kriteria bangunan hijau. Metode tersebut antara lain metode Fuzzy Analytic Hierarchical Process (FAHP) untuk penilaian konservasi energi pada bangunan gedung (Zheng, et al., 2010), ecosystem services criteria yang meliputi indeks keberlanjutan bangunan (index of building sustainability/IBS) dan indeks efisiensi (index of efficiency in sustainability/IES) untuk menilai dampak bangunan pada lingkungan (Olgyay&Herdt, 2004; Alnaser, et al., 2008), water saving rate (WR) untuk menilai konservasi air pada bangunan hijau (Cheng, 2003), serta model dinamik (dynamic decision model) melalui pendekatan multi-objective untuk optimasi dan manajemen energi pada bangunan gedung (Dagdougui, et al., 2012). Sistem penilaian pemilihan material untuk bangunan hijau dapat menggunakan metode data envelopment analysis (DEA) (Li, et al., 2012), qualitative tool, atau quantitative tool (Franzoni, 2011).

 

Muhammad Nur Fajri Alfata*

*Direktur Penelitian dan Pengembangan Energi Bersih Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Ali, H. H., dan Al Nsairat, S. F. (2009). “Developing a green building assessment tool for developing countries – Case of Jordan”. Building and Environment Vol. 44, 1053-1064

Alnaser, N. W., Flanagan, R., dan Alnaser, W. E. (2008). “Model for calculating the sustainable building index (SBI) in the kingdom of Bahrain”. Energy and Buildings Vol. 40, 2037-2043

Cheng, C. (2003). “Evaluating water conservation measures for Green Building in Taiwan”. Building and Environment Vol. 38, 369-379

Dagdougui, H., Minciardi, R., Ouammi, A., Robba, M., and Sacile, R. (2012). “Modeling and optimization of a hybrid system for the energy supply of a ‘‘Green’’ building”. Energy Conversion and Management Vol. 64, 351-363

Deuble, M. P., dan de Dear, R. J. (2012). “Green occupants for green buildings: The missing link?”. Building and Environment Vol. 56, 21-27

Feriadi, H. and Wong, N.H. (2004). “Thermal Comfort for Naturally Ventilated Houses in Indonesia”. Energy and Building Vol 36, 614-626

Franzoni, E. (2011). “Materials selection for green buildings: which tools for engineers and architects?”. Procedia Engineering Vol. 21, 883-890

Gou, Z., Prasad, D., dan Lau, S.S. (2013). “Are green buildings more satisfactory and comfortable?”. Habitat International Vol. 39, 156-161

Hariyanto, A. D. (2005). “Thermal comfort study of an air-conditioned design studio in tropical Surabaya”. Dimensi Teknik Arsitektur Vol. 33 No.1, 76 – 86

Karyono, T.H. (2000). “Report on Thermal Comfort and Building Energy Studies in Jakarta, Indonesia”. Building and Environment Vol. 35, 77-90

Karyono, T.H. (2008). “Bandung Thermal Comfort Study: Assessing the Applicability of Adaptive Model in Indonesia”. Architectural Science Review Vol. 51 No. 1, 60 – 65

Lia, L., Wang, P., Wang, H., dan Zhang, M. (2012). “Green building materials evaluation and empirical research based on the regional endowment”. AASRI Procedia Vol 3, 381-386

Malmqvist, T., Glaumann, M., Svenfelt, Å., Carlson, P., Erlandsson, M., Andersson, J., Wintzell, H., Finnveden, G., Lindholm, T., dan Malmström, T. (2011). “A Swedish environmental rating tool for buildings”. Energy Vol. 36, 1893-1899

Newsham, G.R., Mancini, S., dan Birt, B.J. (2009). “Do LEED-certified buildings save energy? Yes, but… “. Energy and Buildings Vol. 41, 897-905

Olgyay, V., dan Herdt, J. (2004). “The application of ecosystems services criteria for green building assessment”. Solar Energy Vol. 77, 389-398

Paul, W. L., dan Taylor, P. A. (2008). “A comparison of occupant comfort and satisfaction between a green building and a conventional building”. Building and Environment Vol. 43, 1858-1870

Scofield, J.H. (2009). “Do LEED-certified buildings save energy? Not really…”. Energy and Buildings Vol. 41, 1386 – 1390

Sharifi, A., dan Murayama, A. (2013). “A critical review of seven selected neighborhood sustainability assessment tools”. Environmental Impact Assessment Review Vol. 38, 73-87

Yamtraipat, Y., Khedari, J., and Hirunlabh, J. (2005). “Thermal comfort standards for air-conditioned buildings in hot and humid Thailand considering additional factors of acclimatization and education level”. Solar Energy Vol. 78, 504-517

Zheng, G., Jing, Y., Huang, H., Shi, G., dan Zhang, X. (2010). “Developing a fuzzy analytic hierarchical process model for building energy conservation assessment”. Renewable Energy Vol. 35, 78-87