Artikel Umum

Peran Supergrid dalam Perkembangan Kelistrikan dan Energi Terbarukan Indonesia

Listrik adalah salah satu parameter dari masyarakat yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat sebagai infrastruktur dari pembangunan oleh negara. Dengan konsep kelistrikan yang saat ini pembangunannya berdasar kepada peningkatan ekonomi, maka rencana untuk pemerataan listrik maka sangat bergantung pada permintaan (demand). Sesungguhnya PLN sebelum berubah menjadi BUMN pendekatan perencanaan Listrik adalah pendekatan penyediaan (supply driven) karena melekatnya tanggung jawab negara untuk menyediakan listrik sebagai infrastruktur (public service obligation) tetapi ketika PLN berubah menjadi BUMN maka fungsi PSO tersebut seolah kabur bahkan

Nasib Rencana Pembangunan Nuklir di Indonesia dibalik Bayang – Bayang Fukushima

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia masih menjadi topik pembahasan yang sampai saat ini sulit menemukan titik terang. Berbagai spekulasi muncul lantaran banyak pihak yang masih mempertanyakan kesiapan Indonesia dalam mengelola dan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga nuklir. Kekhawatiran itu semakin kuat setelah terjadinya kecelakaan reaktor Fukushima pada  11 Maret 2011. Berbagai rencana pemerintah terkait pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir mendadak perlu direview ulang. Apakah indonesia benar – benar sudah siap untuk memiliki PLTN? Kecelakaan Fukushima yang terjadi sejak 6

Isu Keberlanjutan pada Program Energi Terbarukan Berbasis Masyarakat

Perkembangan Energi Terbarukan di Indonesia dewasa ini mulai marak digunakan sebagai salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan energi di beberapa lokasi di Indonesia terutama lokasi pedalaman dan pulau – pulau terluar. Pemerintah dalam hal ini juga mengambil peranan penting dalam perkembangan energi terbarukan di Indonesia. Pemerintah Indonesia melalui Presiden Republik Indonesia Joko Widodo memberikan komitmen mengenai perkembangan energi terbarukan di Indonesia pada pertemuan KTT Perubahan Iklim (COP21), Paris, Prancis, 30 November 2015. Presiden Indonesia memberikan komitment Target mencapai 23 persen penggunaan Energi

Ke manakah Indonesia harus Berkiblat dalam Mengembangkan Energi Terbarukan?

Kebijakan pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia telah dimulai sejak lebih dari 1 dekade yang lalu. Berbagai kebijakan telah diluncurkan untuk memperbesar penetrasi energi terbarukan dalam menyuplai energi listrik nasional. Salah satu di antaranya adalah dengan melibatkan peran kampus di dalamnya. Sejak pemerintah menggalakkan pengembangan pemanfaatan energi terbarukan, hampir setiap kampus mengarahkan penelitiannya ke arah hal tersebut. Akan tetapi pada kenyataannya, implementasi pemanfaatan energi terbarukan di lapangan belum optimal.   Paper atau jurnal penelitian sebagai produk akademis dapat dijadikan salah satu indokator

Teknologi untuk Komunitas

Konsep pembangunan berkelanjutan yang mengisyaratkan agar apa yang kita lakukan saat ini tidak membebani kehidupan generasi masa depan semakin didengungkan. Hal tersebut dilandasi oleh kesadaran akan kondisi dunia saat ini, yaitu kelangkaan bahan bakar minyak dan polusi udara. Saat ini, energi listrik sebagai bentuk energi populer di masyarakat masih didominasi dari bahan bakar fosil. Budaya yang diwariskan dari penggunaan bahan bakar fosil semakin memperparah kondisi dunia dengan menimbulkan polusi udara dan kebakaran hutan sebagai efek samping pemanasan global. Selain itu, terjadi

Siklus Rankine Organik pada Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada ring of fire (Gambar 1)  memiliki potensi panas bumi sebesar 28,91 GW dari 312 area panas bumi. Kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) hingga tahun 2013 sebesar 1,3435 GW [1]. Sistem panas bumi di Indonesia umumnya merupakan sistem hidrotermal yang mempunyai temperatur tinggi (> 225oC) dan hanya beberapa yang memiliki temperatur sedang (150o – 225o C)[2]. Lapangan panas bumi hidrotermal di Indonesia yang tersebar ke dalam 56 WKP (wilayah kerja panas bumi)

Peningkatan efisiensi sel surya yang telah dihasilkan oleh para Engineer di UNSW Australia

Para insinyur dari Australia telah mencapai batas teoritikal untuk konversi sumber daya matahari menjadi listrik yang dihasilkan oleh sel surya dengan alat yang mampu menciptakan catatan rekor terbaru untuk efisiensi terbaik dari sel surya.   Rekor yang telah diraih oleh Dr Mark Keevers dan Professor Martin Green, yang merupakan  direktur dan anggota peneliti senior dari Pusat Penelitian Lanjut Sel Surya UNSW Australia, menggunakan 28 cm2 four-junction mini-module yang tertanam langsung dalam sebuah prisma, yang dapat memberikan energi maksimum yang berasal dari

Menghemat Energi Mulai dari Rumah

Masalah energi di Indonesia memang tidak pernah berhenti diperbincangkan dari dulu sampai sekarang, oleh siapa saja dan di mana saja, mulai dari tukang becak, sopir angkot, sampai pejabat tinggi negara seperti anggota DPR dan partai politik. Dibicarakandi berbagai tempat, mulai di angkringan, warteg, kafe, hingga diseminarkan di hotel berbintang lima. Isu yang dibicarakan juga beragam, mulai dari isu ketersediaan energi (energy supplay), impor BBM, teknologi konversi, subsidi, konservasi dan penghematan energi, energi terbarukan, hingga kepentingan politik yang menyertai isu seputar energi.

Telaah atas Konsep Green Building di Indonesia

Studi tentang Bangunan Hijau (Green Building) di Indonesia, tidak dapat dipisahkan dari perkembangan isu bangunan hijau di dunia. Sistem penilaian bangunan hijau yang terkenal di dunia antara lain LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) dari Amerika Serikat, CASBEE (Comprehensive Assessment System for Built Environment Efficiency) dari Jepang, BREEAM (Building Research Establishment Environmental Assessment Method) dari Inggris, Green Star dari Australia, dan lain sebagainya. Di Indonesia, sistem penilaian bangunan hijau pertama kali diinisiasi oleh GBCI (Green Building Council Indonesia) dengan sistem